Struktur Arsitektur Bangsal Ponconiti Kraton Yogyakarta dan Nilai Budaya Jawa

by

Alwin Suryono

Kelompok Keilmuan ‘Sejarah, Teori dan Falsafah Arsitektur‘ dan ‘Teknologi – Manajemen‘, Program Studi Arsitektur-Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan.
Korespondensi : alwin@unpar.ac.id

https://doi.org/10.32315/sem.4.015

Abstrak

Arsitektur Bangsal Ponconiti Kraton Yogyakarta berusia 264 tahun masih utuh dan tahan gempa besar menjadi isu utama. Tulisan ini mengungkap arsitektur-struktur bangsal dan nilai budayanya, dengan pendekatan Fenomenologi Arsitektur. Arsitektur-struktur bangsal dideskripsikan, diungkap maksud arsitektural/strukturalnya, lalu nilai2 Budaya Jawanya. Posisi bangsal pada sumbu Filosofis Kraton dapat dimaknai sebagai Sultan/Kraton sejajar Alam Semesta. Esensinya, relasi harmonis mikrokosmos−makrokosmos untuk kemakmuran dan ketenteraman dunia. Bangsal bujur sangkar-terbuka membentuk relasi harmonis Sultan−rakyat−alam sekitar, dan menyatukan pusat kekakuan struktur sekaligus pusat gaya lateral bangunan. Esensinya, relasi harmonis-seimbang Sultan terhadap Tuhan-sesama−alam (nilai Papat Kalima Pancer). Struktur utama (empat tiang utama, ring balok tumpang-sari) digantungi atap sekelilingnya, maka tiang utama memikul porsi terbesar beban atap keseluruhan. Atap sekeliling (pemberat) membantu kestabilan struktur utama terhadap gaya angin/gempa. Esensinya, Sultan (Wakil Tuhan di dunia) berkewajiban menanggung beban hidup rakyatnya (pendukungnya). Rangka kayu jati konstruksi purus-lubang melentur saat menahan beban lateral. Esensinya mengikuti alam–tidak menentangnya, sesuai budaya Nrimo.

Kata-kunci: harmonis, alam, struktur, lentur, nrimo.

Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 4, 015-020
Download PDF

Prosiding Seminar Nasional