Seminar Heritage 2017 Cirebon

by

Seminar Heritage 2017 Cirebon
HERITAGE
TANGIBLE & INTANGIBLE ASPECT

Unduh/Tautan
Poster Seminar Heritage 2017 Cirebon
Template Artikel Hasil Penelitian
Template Artikel Diskursus
Template Artikel Kasus Studi
Template Artikel Pengabdian
Unggah/kirim Artikel
Pendaftaran Seminar/Workshop/City-tour
Penginapan di Sekitar Gedung Negara

Diselenggarakan oleh :
Program Studi Arsitektur – Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon
Program Studi Arsitektur – Universitas Indraprasta
Program Studi Arsitektur Lanskap – Universitas Trisakti
Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

LATAR BELAKANG

Secara historis kota-kota di Indonesia merupakan kota-kota kolonial hasil rancang bangun bangsa Belanda. Dalam perjalanannya kota-kota tersebut terus berkembang dan dibangun, tak terkecuali kota lama ikut terpoles, sehingga wajah kota lama mulai mengalami kontaminasi dan mengalami transformasi dalam berbagai dimensi. Kompas (2008) menyebutkan bahwa kota lama atau kota tua di Indonesia tengah mengalami kehancuran secara sistematis, akibat dari ketidakpedulian para pengelola kota terhadap pelestarian kota-kota pusaka. Sulitnya menemukenali beberapa artefak elemen kota tua sebagai jejak sejarah lingkungan, merupakan salah satu bukti nyata ketidak pedulian pemerintah terhadap warisan bangsa yang bernilai tinggi. Proses aglomerasi yang terus bergulir, telah memicu munculnya kekumuhan baru, sehingga jejak kota tua semakin sulit ditemui dan dikenali.

Kota-kota bersejarah atau kota-kota tua di Indonesia khususnya di Pulau Jawa, mayoritas merupakan kota-kota yang lokasinya berada di wilayah pesisir atau di tepi sungai. Kota-kota tersebut sangat rentan terhadap pembangunan, terutama pembangunan yang berorientasi ekonomi, sehingga sebagai aset bangsa dan negera, kota-kota tua eksistensinya akan terancam dan terus mengalami tekanan pembangunan dari berbagai sektor. Adanya perbedaan perlakuan (treatment) yang mendasar antara objek konservasi berupa bangunan tunggal dengan objek konservasi berupa kawasan, menimbulkan sejumlah catatan yang perlu di tuntaskan (Martokusumo, 2014).

Dalam Undang-undang RI No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya dinyatakan bahwa, Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs Cagar Budaya atau lebih, yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas. Secara eksplisit dalam undang-undang tersebut sudah dinyatakan tentang keberadaan kawasan cagar budaya yang juga perlu dilindungi, namun kenyataan di lapangan keutuhan struktur atau morfologi kawasan terganggu sebagai akibat adanya sisipan bangunan baru pada kawasan tersebut (Markusumo, 2014). Kondisi tersebut mengindikasikan, perlu segera dilakukan pelestarian terhadap warisan bangsa (heritage).

Kota Cirebon dipilih sebagai lokasi kegiatan, karena hampir mengalami seluruh perjalanan sejarah Nusantara. Mulai dari masuknya kebudayaan Hindu-Budha, kebudayaan Cina-Arab (Islam), kebudayaan bangsa Portugis dan Belanda, sampai upaya merebut kemerdekaan Indonesia. Khazanah kebudayaan yang kaya ini menjadikan kota Cirebon sebagai the Living Museum, yang kemudian pada sekitar bulan April 2016, kota Cirebon dicanangkan sebagai Kota Pusaka oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Industri Kreatif, serta ditugaskan untuk menampilkan kembali sisi kelam, sisi terang, atau pun sisi kejayaan Nusantara yang pernah dialami Indonesia.

MAKSUD DAN TUJUAN

Pelestarian bukan hanya sekedar melindungi sifat dan bentuknya, namun juga upaya mengelola pemanfaatannya dari berbagai gangguan, termasuk mengelola lingkungan sekitarnya, sehingga konservasi bukan hanya semata-mata terhadap bangunannya saja, tetapi juga terhadap kawasannya (lansekap). Upaya pelestarian harus dilakukan secara menyeluruh dan menerus sehingga membangun efek bola salju. Berangkat dari pemikiran tersebut maka, Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan (IPLBI) beserta beberapa perguruan tinggi di Jakarta dan Cirebon berkolaborasi menyelenggarakan kegiatan seminar, workshop sebagai bukti kepedulian dan penghargaan terhadap aset bangsa dan negara.

Kegiatan seminar bertujuan untuk meningkatkan interaksi dan komunikasi antara dosen, peneliti dan masyarakat umum serta pengambil kebijakan, sehingga dapat mendorong terjadinya kegiatan pengembangan, akumulasi, penyebaran atau penerapan pengetahuan secara kolektif, kolaboratif, multi-perspektif dan sinergis. Diharapkan pertemuan tersebut dapat mewujudkan pelaksanaan pelestarian cagar budaya di Indonesia secara lebih efisien (hemat waktu, tenaga dan biaya) dan efektif (memberikan hasil yang optimal). Penyelenggaraan ”workshop” bertujuan untuk memperoleh metoda dalam melakukan penilaian terhadap cagar budaya, sehingga peserta mampu menerapkan sistem perlindungan secara sistematis (grading system) terhadap obyek cagar budaya pada suatu wilayah. Kegiatan tersebut sekaligus juga sebagai langkah untuk menghimpun berbagai masukan dan pola pikir ilmiah dari berbagai disiplin ilmu, yang akan disumbangkan pada pihak Pemerintah

Kota maupun Provinsi dalam mengelola warisan budaya, baik berupa bangunan, kawasan, budaya dan lainnya. Pada gilirannya kelak, semua masukan dan hasil pemikiran dapat dirumuskan bersama sebagai panduan dalam melakukan upaya pelestarian warisan bangsa.Selain kegiatan yang bersifat formal (seminar dan workshop), juga terdapat kegiatan non formal berupa gala dinner, kesenian Cirebonan serta city tour. Peserta dapat menikmati aneka kuliner dan kesenian Cirebon yang merupakan bagian dari warisan lelulur, juga tempat-tempat bersejarah sebagai bagian dari the living museum kota Cirebon.

MANFAAT

Berbagai manfaat akan diperoleh dari pertemuan ini, antara lain dari terjadinya tranformasi dan akulturasi kelimuan serta terjalinnya komunikasi antar komunitas yang memiki kesamaan visi dan misi untuk melestarikan warisan budaya dari berbagai dimensi. Meningkatnya publikasi dan sebaran ilmu pengetahuan, serta terwujudnya effisiensi waktu, tenaga, biaya bagi akademisi mapun non akademisi yang peduli terhadap kegiatan pelestarian warisan budaya.

REKOMENDASI

Terselenggaranya kegiatan ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah kota sebagai pemangku keputusan, untuk segera menghasilkan Perda Cagar Budaya di Kotamadya Cirebon. Saat ini cagar budaya di wilayah Kotamadya Cirebon diatur melalui SK Walikota Cirebon No.19 tahun 2001, sehingga secara legalitas kurang memiliki kekuatan. Di sisi lain kegiatan ini juga dapat membuka wawasan swasta maupun masyarakat, bahwa Cagar budaya baik berupa bangunan, kawasan maupun kota merupakan sebuah “living museum” yang dapat menjadi daya tarik dari berbagai sektor. Pada gilirannya kelak,masing-masing kota di Indonesia mempunyai keunikan sesuai dengan perjalanan budayanya sehingga tidak tumbuh menjadi tunggal rupa.

BENTUK DAN TEMA KEGIATAN

Kegiatan bukan hanya diikuti oleh akademisi maupun masyarakat peneliti, tetapi juga oleh para pemangku kebijakan, penggiat pelestarian warisan budaya serta masyarakat umum lainnya. Kegiatan dilakukan dalam 3 (tiga) hari, yaitu hari pertama berupa seminar yang kemudian pada malam hari dilanjutkan dengan kegiatan gala dinner serta malam kesenian Kacirebonan. Pada hari kedua berupa kegiatan workshop tentang metoda penilaian cagar budaya, dan hari ketiga berupa kegiatan city tour untuk melihat dan mengamati dari dekat berbagai elemen heritage (urban, building dan landscape) serta menikmati atmosfir heritage kota Cirebon. Seluruh rangkaian kegiatan akan dikemas dalam tema : “Heritage : Tangible- Intangible Aspects”, dengan sub tema: Urban Heritage, Building Heritage dan Landscape Heritage. Semua kegiatan dilaksanakan di Gedung Negara Cirebon, yang merupakan salah satu cagar budaya dan dahulunya merupakan tempat tinggal Residen Belanda.

WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN

SEMINAR DAN GALA DINNER
Rabu, 3 Mei 2017
Waktu : 08.00 – 22.30 WIB
Tempat : Gedung Negara Cirebon Jl. Siliwangi No.14 Cirebon – Jawa Barat

WORKSHOP
Kamis, 4 Mei 2017
Waktu : 08.00 – 17.00 WIB
Tempat : Gedung Negara Cirebon Jl. Siliwangi No.14 Cirebon – Jawa Barat

CITY TOUR
Jum’at, 5 Mei 2017
Waktu : 08.00 – 17.00 WIB

JADWAL ACARA

Waktu Kegiatan
Hari Pertama SEMINAR
07:00-08:00 Registrasi Peserta
08:00-08:15 Sambutan dan Pembukaan Walikota Cirebon
08:15-10:30 Pembicara Kunci
Muhadjir Effendy* – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Abidin Aslich – Pemerintah Kota Cirebon – Ahli Bidang. Kebudayaan
PRA Arief Natadiningrat – Sultan Sepuh XIV
Mustaqim Asteja – Komunitas Pusaka Cirebon Kendi Pertula
Widjaja Martokusumo – Dekan SAPPK Institut Teknologi Bandung
Iwan Purnama – Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (Moderator)
10:30-13.00 Diskusi Pararel Sesi 1
Urban Heritage (ruang 1)
Building Heritage (ruang 2)
Landscape Heritage (ruang 3)
13:00-14:00 Isoma
14:00-17:30 Diskusi Pararel Sesi 2
Urban Heritage (ruang 1)
Building Heritage (ruang 2)
Landscape Heritage (ruang 3)
17:30-18:00 Foto Bersama (matahari terbenam)
18:00-19:00 Istirahat
19:30-22:30 Gala Dinner dan Malam Kesenian
Tarian Renteng (tarian sambutan)
Tarian Bedaya (tarian pembukaan)
Sambutan Ketua IPLBI
Tarian Topeng dan Tarian Sintren
Penutupan dan Tarian Tayuban
Foto Bersama

PEMBICARA KUNCI DAN MODERATOR SEMINAR

Pembicara Institusi
Harry Widianto Direktur Direktorat Pelestarian CAgar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud
Abidin Aslich* Staf Ahli Bidang Hukum dan Politik Pemerintah Kota Cirebon
PRA Arief Natadiningrat Sultan Kasepuhan XIV
Mustaqim Asteja Komunitas Pusaka Cirebon Kendi Pertula
Widjaja Martokusumo Dekan Sekolah Arsitektur – Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB
Iwan Purnama Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (Moderator)

* Belum Konfirmasi

PANITIA

Posisi Penanggung-jawab Institusi
Ketua Umum Eka Widiyananto MT. STTC
Wakil Ketua I (Seminar) Rully Besari Budiyanti Dr. USAKTI
RL Pangaribowo MSi. USAKTI
Hinijati Wijaya M.Sc. USAKTI
Wakil Ketua II (Workshop) Iwan Purnama Dr. Cand. STTC
Mustaqim Asteja KPKP
Wakil Ketua III (City-Tour) Nurhidayah ST. STTC
Irfan Maulana ST. STTC
Wakil Ketua IV (Markom) Sahid Dr. UPJ
Mudhofar MT. STTC
Sekretaris Rita Laksmitasari R. MT. UNINDRA
Bendahara Farhatul Mutiah MT. STTC
Manajemen Artikel Karya Widyawati MT. UNINDRA
Atie Ernawati MT. UNINDRA
Ratu Arum MT. UNINDRA
Vivi Untari IPLBI

STTC: Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon
UNINDRA: Universitas Indraprasta – Jakarta
USAKTI: Universitas Trisakti – Jakarta
UPJ: Universitas Pembangunan Jaya
KPKP: Komunitas Pusaka Kendi Pertula

KOMISI ILMIAH

Nama (urut abjad) Institusi
Agung Murti Nugroho Dr. Universitas Brawijaya
Antariksa Sudikno Prof.* Universitas Brawijaya
Arif Sarwo Wibowo Dr.Eng. Institut Teknologi Bandung
Bambang Setia Budi Dr. Eng. Institut Teknologi Bandung
Benyamin Ishak MRP. Jaringan Kota Pusaka Indonesia
Cathrini Pratihari Kubontubuh Dr.Cand. Balai Pelestarian Pusaka Indonesia
Cynthia Wuisang Ph.D Universitas Sam Ratulangi
Dini Rosmalia Dr. Universitas Pancasila
Eko Alvares Dr. Universitas Bung Hatta
Gatot Adi Susilo MT. Institut Teknologi Nasional Malang
Himasari Hanan Dr. Institut Teknologi Bandung
Ikaputra Dr. Universitas Gadjah Mada
Indah Widiastuti Dr. Institut Teknologi Bandung
Johannes Adyanto Dr. Universitas Sriwijaya
Josef Prijotomo Prof. Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya
Kemas Ridwan Kurniawan Prof. Universitas Indonesia
Komara Djaya Dr. Universitas Indonesia
Nina Nurdiani Dr. Universitas Binus
Pancawati Dewi Dr. Universitas Veteran Surabaya
Ria Wikantari Dr. Universitas Hasanuddin
Sherly Asriani Dr. Universitas Khairun
Susilo Kusdiwanggo Dr. Universitas Brawijaya
Tjahja Tribinuka Dr. Cand. Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya
Wasilah Sahabuddin Dr. UIN Alauddin Makassar
Widjaja Martokusumo Prof. Institut Teknologi Bandung
Yudantini Ni Made Dr. Universitas Udayana

* Ketua

KOMISI PENGARAH

Nama Institusi
Muhadjir Effendy* Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
Nasrudin Aziz* Walikota Cirebon
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Cirebon
Dinas Pemuda dan Olah Raga – Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon
PRA Arief Natadiningrat Sultan Sepuh XIV
Muhammad Emirudin Sultan Anom XII
Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon
Ketua Jurusan dan/atau Ketua Prodi
Hanson E. Kusuma Ketua Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

* Belum konfirmasi