Moving House: Negosiasi Antara Sistem Konstruksi dan Nilai Budaya

by

Erna Meutia1, Muhammad Heru Arie Edytia2, Zulhadi Sahputra3, Cut Dewi4

1,2,3,4 Program Studi Arsitektur, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala
Korespondensi : ernameutia@unsyiah.ac.id

https://doi.org/10.32315/sem.4.096

Abstrak

Arsitektur tradisional sebagai hasil budaya yang berkembang dalam masyarakat hingga kini, berupa rumah tradisional. Konstruksinya menggunakan kayu yang memiliki keunikan yang dapat dibongkar pasang.  Keahlian konstruksi pada saat itu menghasilkan teknologi yang berkembang dalam masyarakat yang diperoleh secara turun temurun.  sistem konstruksi hanya menggunakan sambungan menerus yang diperkuat oleh pasak sangat memudahkan konstruksi tersebut untuk dibongkar pasang. Demikian juga halnya dengan Rumoh Aceh, rumah tradisional Aceh, dibangun melalui sistem konstruksi bongkar-pasang sehingga memungkinkannya untuk berpindah tempat (moving house). Terdapat beberapa cara yang dilakukan untuk moving house, pertama dengan mengangkat rumah Aceh dan ditempatkan di lokasi yang sama, kedua dengan cara membongkar semua elemen konstruksi dan membangun kembali ke lokasi yang berbeda.  Beberapa faktor pemindahan rumoh Aceh dipindahkan dari tempat asalnya, diantaranya faktor keamanan, kepemilikan sebagai pewaris, dan upaya pelestarian budaya menjadi alasan lainnya. Oleh karena itu, kajian ini dilakukan melalui pengamatan langsung dan wawancara terhadap pemilik tiga rumoh Aceh yang dipindahkan dari kabupaten Pidie ke Banda Aceh yang berjarak 100 sampai 150 km dan berusia lebih dari 100 tahun. Kajian ini dilakukan untuk melihat bagaimana proses sistem konstruksi rumoh Aceh yang dapat dipindahkan dan bagaimana nilai-nilai budaya dan sejarah tetap dipertahankan melalui proses tersebut terkait faktor fisik dan metafisik.

Kata-kunci: Aceh, fisik, house, rumoh, metafisik, moving

Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 4, 096-101
Download PDF

Prosiding Seminar Nasional