Kesahajaan Arsitektur Bali Aga Pengotan, Pengaruh Kosmologi?

by

Dwinik Winawangsari1, Himasari Hanan2, Widjaja Martokusumo3

1 Program Doktor, Arsitektur, SAPPK, ITB
2 Kelompok Keahlian Sejarah, Teori dan Kritik, Arsitektur, SAPPK, ITB
3 Kelompok Keahlian Perancangan Arsitektur, Arsitektur, SAPPK, ITB
Korespondensi : dwtoemadi@gmail.com

https://doi.org/10.32315/sem.4.080

Abstrak

Masyarakat Bali Aga di desa adat Pengotan memiliki tradisi membangun rumah yang merujuk pada kosmologi yang berujung pada harmonisasi dan keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya. Setiap elemen dan tata letak bangunan merepresentasikan keselarasan tersebut. Bangunan meten di desa Pengotan merupakan bagian dari rumah tinggal (jumah) yang menggunakan bambu sebagai bahan bangunan, kecuali kolom/tiang/saka dan balok bangunan utama menggunakan kayu, dan pondasi lantai bangunan menggunakan batu dan tanah kering (popolan). Sejalan dengan perkembangan jaman, pola kehidupan masyarakat berubah yang mengakibatkan bangunan rumah tradisional (jumah) yang sangat teratur dan seragam secara individual mengalami perubahan. Makalah ini merupakan hasil penelitian lapangan dengan mengambil sampel bangunan meten yang banyak mengalami perubahan. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji nilai-nilai kosmologi yang membentuk bangunan vernakular Bali Aga, perubahan yang dialami bangunan, dan mencari bagian dari bangunan yang tidak mengalami perubahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan bangunan dipengaruhi oleh nilai-nilai kosmologi. Terjadi perubahan pada tampilan bangunan yang berlangsung secara parsial mengikuti selera pribadi penghuni. Struktur utama meten berupa dipan (selaan) kayu tidak mengalamai perubahan. Ada tidaknya perubahan pada elemen bangunan dipengaruhi oleh nilai kosmologis yang dilekatkan pada elemen tersebut.

Kata-kunci: Bali Aga, jumah, kosmologi, pengotan, selaan

Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 4, 080-087
Download PDF

Prosiding Seminar Nasional