Kearifan Lokal Dalam Pembentukan Konfigurasi Ruang Luar Permukiman Tepi Laut Mariso

by

Edward Syarif

Lab. Disain Perumahan dan Lingkungan Permukiman/Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik/ Universitas Hasanuddin.
Korespondensi: edosyarif@yahoo.com

https://doi.org/10.32315/sem.3.a060

Abstrak

Permukiman Mariso terbentuk dan berkembang akibat pengaruh budaya masyarakat lokal. Awalnya terbentuk rumah-rumah di atas laut kemudian berkembang menjadi permukiman daratan akibat pengaruh budaya solidaritas masyarakat Makassar.  Budaya solidaritas Makassar didasarkan pada 2 konsep dasar yaitu sipakatau dan passaribattangngang. Budaya sipakatau adalah sikap saling menghargai, sedangkan budaya passaribattangngang merupakan sikap saling membantu. Kedua konsep ini telah mempengaruhi karakteristik  konfigurasi  ruang permukiman Mariso. Tulisan ini membahas pengaruh budaya solidaritas suku Makassar terhadap karakteristik konfigurasi ruang luar pemukiman tepi laut Mariso. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik analisis synchronic reading dan didukung oleh metode space syntax. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh budaya sipakatau  cenderung membentuk pola permukiman individu dan menyebar, sedangkan budaya passaribattangngang cenderung membentuk pola permukiman mengelompok. Pengaruh budaya passaribattangngang akan membentuk konfigurasi ruang yang lebih terintegrasi dari ruang yang terbentuk karena budaya sipakatau. Tulisan ini dapat menjadi konsep pengembangan permukiman tepi air yang tergintegrasi dengan kearifan lokal.

Kata-kunci : konfigurasi ruang, Mariso, passaribattangngang, sipakatau, space syntax

Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 3, A 060-067
Download PDF

Prosiding Seminar Nasional