Elemen Dinding Bernafas pada Arsitektur Nusantara

by

Mochamad Risqi Junianto1, Reven Audia Rahmanda2, Reynold Johan Aleksander Telnoni3

1,2,3 Arsitektur Lingkungan, Magister Arsitektur, Program Pasca Sarjana, Universitas Merdeka Malang.
Korespondensi : kikirisqi0@gmail.com

https://doi.org/10.32315/sem.2.b093

Abstrak

Artikel membahas tentang bagaimana rumah tradisional di Indonesia merespon iklim setempat dengan mengalirkan udara ke dalam bangunan. Selain dengan pencahayaan alami, aliran udara diperlukan di dalam bangunan karena Indonesia berada di iklim tropis lembap di mana suhu dan kelembapan relatif tinggi. Penelitian awal ini bertujuan untuk mengetahui adanya elemen dinding bernafas pada beberapa rumah tradisonal. Pengumpulan data awal berdasarkan eksplorasi dari data-data sekunder. Dinding bernafas mengalirkan udara melalui rongga atau celah yang terbentuk dari material penyusun serta cara pemasangannya. Rumah tradisional yang dipilih adalah Rumah Lamin Pepas Eheng, rumah Bale Sasak Sade, rumah tradisional Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Material dinding Rumah Lamin Pepas Eheng adalah kulit kayu ulin, rumah Bale menggunakan anyaman bambu dan rumah tradisional TTS menggunakan pelepah pohon kelapa. Selanjutnya dilakukan pengambilan data primer terkait fisik bangunan, pengukuran suhu, kelembapan, kecepatan angin pada bangunan. Diharapkan temuan penelitian bisa berkontribusi dalam produk perancangan arsitektural di Indonesia.

Kata-kunci : Arsitektur Nusantara, Dinding Bernafas, Material Dinding

Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 2, B 093-100
Download PDF

Prosiding Seminar Nasional